Home Tek Insider Memaksimalkan Teknologi AI Untuk Optimalisasi dan Efisiensi

Insider Memaksimalkan Teknologi AI Untuk Optimalisasi dan Efisiensi

Rilispedia.com – Dewasa ini, penggunaaan teknologi artificial intelligence (AI) oleh berbagai perusahaan masih banyak diwarnai dengan sentimen skeptis lantaran AI belum dianggap benar-benar memberikan imbal hasil atau return on investment (RoI) yang baik dan relatif cepat. Salah seorang data scientist senior dari Unicorn asal Indonesia, Go-Jek bahkan mengakui, meski sering menemukan banyak problem yang nampaknya besar dan menggunakan AI untuk memecahkannya, nyatanya AI tidak terlalu berdampak terhadap bisnis perusahaan. Sementara studi yang dilakukan IDC Indonesia menunjukan bahwa AI adalah investasi jangka panjang dan terus berevolusi. Karenanya, keuntungan yang didapat tidak bisa dilihat dalam 1-2 tahun ke depan, melainkan di atas empat tahun.

RoI atas imbal hasil dari jutaan dolar yang perusahaan habiskan baru akan muncul ketika skala ekonominya tercapai, 4-5 tahun berikutnya. IDC Indonesia merekomendasikan strategi investasi AI jangka panjang, tidak hanya oleh satu unit atau fungsi bisnis, tapi strategi secara enterprise. Untuk lebih mengupas bagaimana perusahaan bisa menerjemahkan AI menjadi pundi-pundi pendapatan, perusahaan penyedia platform manajemen pertumbuhan (GMP) Insider berbagi pandangannya di sela diskusi panel bertajuk “Making Money With AI” yang diselenggarakan Tech in Asia Conference (TIA) hari ini, Selasa, 8 Oktober di Main Stage, Jakarta Convention Center. Sesi tersebut menghadirkan praktisi dari berbagai industri termasuk Joe Harahap, Regional Director Insider, Magic Tu, VP Product management Appier dan Reynir Fauzan, Co-founder Kata.ai.

Dalam pemaparannya, Direktur Regional Indonesia & Filipina Insider Joe Harahap membagikan tips bagaimana perusahaan atau enterprenur bisa memantau penjualan dan pendapatan mereka. Di sesi ini, Joe menceritakan bagaimana Insider membangun produk berbasis AI, yang kemudian menghasilkan pundi-pundi pendapatan bagi perusahaan. Dalam perjalanannya, Insider menghadapi berbagai tantangan sekaligus peluang, yang bisa jadi menginsiprasi perusahaan lain yang sedang mempertimbngkan untuk mengintegrasikan AI atau bahkan mulai membuat produk AI mereka sendiri.

“Bagi saya, penggunaan AI itu untuk mengatasi dua problem utama yang kerap dihadapi perusahaan, yakni kompleksitas dan skalabilitas. Saat kita dihadapkan pada data perilaku pengguna yang begitu dinamis dan melimpah, penggunaan AI sangat membantu dalam menganalisa data-data tersebut, dan lebih jauh membantu para pengiklan memproduksi pemasaran yang lebih tersegmentasi dan targeted. Tim punya keterbatasan saat menghadapi data dalam jumlah yang begitu melimpah,” kata Joe.

Joe menambahkan, di Insider sendiri, AI digunakan untuk menciptakan segmentasi atau audience terprediksi, melakukan persuasi lebih advanced. Dengan AI, perusahaan bisa melakukan prediksi misalnya menentukan pengguna yang sekiranya akan melakukan pembelian dalam 7 hari ke depan, atau melakukan uninstall aplikasi dalam 7 hari ke depan. Berhubung perilaku pengguna juga sangat dinamis, modelling yang digunakan juga sangat dinamis dan AI sangat membantu proses ini.

“Platform kami dipersenjatai AI dan ML dan didesain khusus untuk memecahkan masalah yang kerap dihadapi para pengiklan, mulai dari optimalisasi Return on Ad Spend (ROAS), mendorong konversi dan meningkatkan kualitas product discovery serta menghasilkan insights yang bisa meningkatkan program personalisasi para pengiklan. Basis modelling kami adalah perilaku para pengguna, karena saat perilaku pengguna berubah, kami mendesain modelling baru, jadi cukup dinamis. Namun dengan AI, pengiklan sangat terbantu dalam hal personalisasi kampanye, pesan yang dipersonalisasi dan sebagainya,” tambah Joe.

Menurut Joe, saat dibandingkan, performa dari kampanye menggunakan segmentasi atau audience terprediksi cenderung mengungguli kampanye yang dilakukan tanpa bantuan AI. Adanya kemampuan prediktif yang dihasilkan AI membuat pengiklan bisa melakukan program preventif ketimbang reaktif, semisal mencegah terjadinya uninstall aplikasi atau penurunan pengguna.

Namun, investasi pada AI bukanlah sesuatu yang mudah dilakukan. Setidaknya ada beberapa langkah yang bisa dipertimbangkan saat hendak mengadopsi AI. Pertama, tentukan playground atau masalah yang hendak dipecahkan perusahaan Anda. Apakah itu bisa diselesaikan lewat AI? Karena tidak selamanya AI baik untuk semua jenis industri dan solusi. Bisa saja, sebulan atau satu setengah tahun setelah perusahaan mengadopsi AI, namun belum juga menemukan data yang terkurasi dan sesuai dengan kebutuhan atau problem yang hendak diselesaikan di awal.

Kedua, mengingat initial investment AI terbilang tinggi, ada baiknya perusahaan mempertimbangkan untuk berpartner dengan mitra lain yang memiliki resource atau tim yang jauh lebih menguasai teknologi AI. Kecuali jika perusahaan Anda kebanyakan modal dan ingin mencoba-coba mengembangkan produk berbasis AI sendiri. Karena saat berbicara soal RoI atau monetisasi AI, sangat jarang yang memonetisasi Ai lewat produk AI langsung, melainkan lewat efisiensi operasional yang dihasilkan lewat AI.

“Kalau bicara soal making money from AI, pada akhirnya ini hanya soal angka. Apa dengan AI anda bisa lebih mengurangi biaya? Meningkatkan penjualan? Meningkatkan conversation rate? Buat Insider sendiri, for Insider pada akhirnya investasi AI itu soal berapa banyak uang yang anda keluarkan? Sepadankah? Sepadankan kalau kita mengorbankan tim yang mungkin lebih bagus kalau mereka tetap fokus pada produk inti saja? Anda harus berpikir kembali apakah penggunaan AI benar-benar mengatasi problem saya? Karena tidak jarang AI juga bisa menjadi boomerang. Sama hal nya ketika kami bicara modeling segmentasi audience terprediksi untuk industry otomotif misalnya yang keputusan pembelian dilakukan dalam jangka 3 hingga 4 minggu, tentu modelling yang kami punya saat ini tidak relevan dan kami akan lebih memilih menggunakan modelling AI dari pihak luar,” kata Joe.

Must Read

Menkominfo Menyatakan Pemulihan Gangguan Layanan Telekomunikasi di Jayapura Berlangsung Bertahap

Rilispedia.com - Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate menyatakan pemulihan gangguan layanan telekomunikasi di Jayapura berlangsung bertahap. Menkominfo menjelaskan gangguan layanan...

Prosesor AMD EPYC Tenagai Sistem Baru Untuk National Supercomputing Centre Singapore

Rilispedia.com - AMD mengumumkan bahwa prosesor AMD EPYC 7003 Series akan digunakan untuk mentenagai supercomputer terbaru untuk National Supercomputing Centre (NSCC) Singapura,...

Menkominfo Sebut Peringatan Dua Hari Besar Keagamaan Jadi Momentum Bersejarah dan Anugerah Persaudaraan

Rilispedia.com - Tanggal 13 Mei 2021 diperingati sebagai hari besar dua umat beragama di Indonesia. Pertama, hari raya Idulfitri 1442 H bagi...

Garmin Bagikan Manfaat Fitur Pemantauan Kualitas Tidur Advanced Sleep Monitoring dan Sleep Tracking Widget

Rilispedia.com - Bukan rahasia umum bila tidur adalah aktivitas penting bagi kesehatan kita. Bahkan, tidur menjadi kebutuhan primer, di mana kita mendedikasikan...

Jadikan Momen Kebersamaan Idul Fitri Lebih Bermakna dengan #SilaturahmiTanpaHenti

Rilispedia.com - Selain momen kemenangan bagi umat Islam, lebaran biasa dijadikan momen berkumpul dan silaturahmi bersama keluarga. Sayangnya, lebaran tahun ini masih...